| (Sumber Foto: Alodokter) |
Mita adalah mahasiswi semester akhir, ia dari luar, terlihat biasa-biasa saja. Ia tak punya masalah besar, nilainya cukup aman, bahkan hidupnya tercukupi. Tapi justru karena semuanya tampak baik-baik saja, tanpa ada yang menyadari bahwa di dalam dirinya, ada kekosongan yang tumbuh pelan-pelan.
Banyak dari kita pernah merasa seperti Mita, baik-baik saja dari luar, tapi sesak di dalam. Hari-hari berlalu begitu saja seperti bangun pagi, kuliah, mengerjakan tugas, tidur. Ulangi. Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar-benar bermakna.
Menurut laporan WHO dan Kementerian Kesehatan RI, mahasiswa usia dua puluh tahunan rentan mengalami stagnasi psikologis. Stagnasi adalah kondisi kebosanan, ketidakpuasan, dan ketidakberartian yang dapat terjadi ketika individu merasa mandek dalam kehidupan pribadi. Bukan depresi berat, tapi perasaan kosong, tidak punya arah, dan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Masalah ini kerap tidak terlihat karena tidak berteriak, tapi berbisik pelan di kepala, setiap malam sebelum tidur.
Di titik inilah Mita mulai bertanya, bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri. Apakah benar saya tidak berkembang? Atau hanya terlalu sibuk menilai pencapaian orang lain?
“Aku sadar, aku terlalu sering membandingkan langkahku dengan orang lain. Padahal mungkin aku memang punya cara sendiri untuk bertumbuh,” kata Mita dengan nada pelan.
Dikutip dari Alodokter refleksi diri adalah bagian dari proses introspeksi diri yang dilakukan dengan cara melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup, seperti pengalaman, kebiasaan, dan keputusan. Refleksi diri bisa membantu Anda untuk menjalani hidup yang lebih baik ke depannya.
Kita hidup di era dimana kesibukan dijadikan tolok ukur keberhasilan. Kalau tidak aktif di sana-sini, kita dianggap tertinggal. Padahal, pertumbuhan bisa datang dalam bentuk yang sangat sederhana, dari membaca buku sendirian, memberanikan diri bertanya di kelas, atau bahkan memutuskan untuk rehat sejenak.
Mita membaca sebuah buku yang berjudul “The Subtle Art of Not Giving a F*ck" semenjak itu ia membuka matanya. Mungkin masalahnya bukan ada pada pencapaiannya, tetapi ada pada standar yang tidak realistis yang dipaksakan pada dirinya.
Mita mulai menyusun ulang hidupnya. Ia tidak memaksakan diri untuk ikut semua kegiatan. Ia memilih satu pelatihan online tentang topik yang benar-benar disukainya yaitu kesehatan mental. Ia juga mulai menulis di blog kecilnya, berbagi cerita dan keresahan yang ia pikir hanya ia yang punya, ternyata banyak yang merasa sama.
Sendirian itu tidak selalu buruk, ia bisa jadi ruang untuk berdamai, jujur, dan untuk bertumbuh. Dalam sunyi, kita bisa mendengar suara hati sendiri, yang selama ini kalah bising oleh dunia luar.
Mungkin tulisan ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi tulisan ini memberi pembelajaran dari suatu kisah yang dapat dipetik maknanya. Jika kamu sedang berada di fase yang sama, ini pengingat bahwa kamu tidak sendirian. Tidak apa-apa kalau hidupmu belum ada yang berkesan, tidak apa-apa kalau kamu belum punya pencapaian yang bisa dituliskan di profil LinkedIn.
Justru di fase paling tenang dan sepi dalam hidup, kita diajak untuk benar-benar mengenal diri sendiri. Refleksi bukan tanda berhenti, tapi proses henti yang memberi arah. Jadi, jika kamu merasa jalanmu lambat atau bahkan diam, bisa jadi itulah momen penting yang sedang membentukmu pelan-pelan, tapi pasti.