| (Sumber Foto: lingkaran.id) |
Aku ternyata terbiasa menjadi orang yang sibuk. Banyak agenda, rapat, proker, dan segala macam to-do list. Tapi di antara semua kesibukan itu, aku mulai kehilangan arah. Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi karena lupa siapa yang sebenarnya sedang berjalan.
Sampai suatu saat, aku tidak sengaja menemukan jurnal lamaku. Di sana, tertulis mimpi-mimpi yang dulu kubuat dengan semangat. Dan aku hanya bisa tersenyum pahit, karena aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali menuliskannya.
Psikologi menyebut proses ini sebagai “disconnected self” Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology, kehilangan koneksi dengan diri sendiri sering kali terjadi saat individu lebih sibuk memenuhi ekspektasi luar dibanding mendengarkan nilai-nilai pribadi yang dimilikinya.
Salah satu cara untuk kembali “terhubung” adalah dengan refleksi. Tapi refleksi tidak selalu berarti duduk diam bermeditasi. Bisa saja lewat menulis, berbicara dengan teman, atau bahkan mendengarkan lagu yang memunculkan perasaan lama.
Aku mencoba menulis kembali bukan untuk membuat karya besar, tapi hanya ingin berbicara dengan diriku sendiri. Termasuk dalam tulisan ini. Aku bertanya: “Apa yang benar-benar aku inginkan?” dan “Kenapa aku begitu takut gagal?”
Lalu aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana namun menyentuh ialah aku terlalu sering menjadi versi yang disukai banyak orang, tapi lupa menjadi diriku sendiri.
Perasaan ini tidak muncul dari satu peristiwa besar. Ini tumbuh pelan-pelan. Ketika aku memaksakan senyum di tengah rapat yang membuatku lelah. Saat aku berkata “tidak apa-apa” padahal semuanya jelas tidak baik-baik saja.
Dan ini bukan hanya ceritaku. Ini bisa jadi cerita siapa pun, kapan pun. Karena kehilangan koneksi dengan diri sendiri adalah hal yang manusiawi dan itu hal yang sering kali tidak kita sadari.
Banyak pembelajaran yang dapatku ambil untuk tidak selalu mengejar versi terbaik dari diriku. Kadang yang aku butuhkan adalah mendekat pada diriku yang paling jujur. Aku tidak ingin terus menjadi asing di dalam hidupku sendiri.
Melihat ke dalam bukan hal mudah. Tapi itu adalah langkah paling penting untuk mengenal kembali siapa yang benar-benar tinggal di balik nama, wajah, dan rutinitas yang melelahkan ini.
Karena sebelum kita bisa benar-benar hadir untuk orang lain, kita perlu hadir untuk diri kita sendiri. Dan itu dimulai dari satu hal sederhana yaitu dengan cara mengakui bahwa aku, yang sering terlupa, layak untuk dikenali kembali.