Saat Emosi Tak Terkendali, Pertemanan Bisa Renggang Diam-Diam

(Sumber Foto: Depositphotos)

Oleh: Nabila Febriyanti

Aruskabar.com – “Teman dekatku saat kuliah tiba-tiba berubah. Ternyata, dia sakit hati waktu aku ngebentak obrolan dia yang membuatku kesal. Padahal saat itu posisiku sedang lelah, tapi dia masih saja membuat obrolan yang membuat amarah ku membesar. Ujung-ujungnya kita menjauh,” ujar Abdul Aziz.

Kejadian serupa tidak hanya dialami oleh Abdul Aziz. Banyak orang pernah berada dalam situasi dimana emosi yang tidak stabil menyebabkan mereka bersikap atau berkata di luar kendali. Padahal tidak semua orang dapat mampu menyampaikan dengan baik apa yang ia rasakan.

Mengelola emosi bukan hanya tentang menahan diri dari marah, tetapi juga belajar memahami perasaan sendiri dan orang lain. Dengan komunikasi yang baik dan kesadaran diri, pertemanan bisa bertahan lebih lama.

Sebuah hubungan pertemanan bisa rusak bukan karena pengkhianatan atau pertengkaran hebat. Justru hal-hal kecil seperti candaan yang terasa menyinggung, chat yang tidak dibalas, atau nada bicara yang salah tafsir bisa menimbulkan jarak yang pelan-pelan melebar.

Oleh sebab itu, kecerdasan emosional sangatlah penting dalam kehidupan, terutama dalam menjaga hubungan sosial seperti pertemanan. Kecerdasan emosional membantu seseorang mengenali perasaannya sendiri, memahami perasaan orang lain, dan merespons situasi dengan lebih tenang serta tepat. Tanpa adanya kecerdasan emosional kita lebih mudah terpancing emosi seperti salah paham, atau bahkan menyakiti orang terdekat.

Menurut Daniel Goleman, pakar ternama di bidang kecerdasan emosional, melalui penelitiannya di platform danielgoleman.info, menyatakan bahwa kecerdasan emosional, yang meliputi kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri, sangat berpengaruh dalam membina, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan sosial, termasuk pertemanan. Orang yang mampu mengelola emosi akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial dan mempertahankan relasi yang sehat.

Hal inilah yang dialami Abdul Aziz, mahasiswa jurusan teknik mesin di Jakarta, pernah mengalaminya. Abdul Aziz tidak pernah berniat menyakiti temannya, namun ia bingung bagaimana mengatur kemarahannya saat lelah. Lalu temannya, yang merasa dibentak dengan suara Abdul Aziz yang tinggi, memilih menjauh tanpa bertanya lebih dulu.

Masalah seperti ini menunjukkan kalau kita masih kurang paham soal yang namanya kecerdasan emosional. Padahal, kecerdasan emosional itu bukan hanya soal menahan marah, tapi juga soal mengerti perasaan sendiri dan peka sama perasaan orang lain.

Kadang, kita tidak sadar kalau satu kalimat atau sikap kecil bisa bikin teman kita merasa sakit hati. Bukan karena kita orang jahat, tapi karena kita sama-sama tidak memahami bagaimana cara menyampaikan perasaan dengan baik. Akhirnya, emosi yang tidak diatur malah membuat salah paham yang lama-lama semakin rumit.

Kini Abdul Aziz menerapkan untuk menjaga hubungan pertemanannya tetap erat, penting bagi seseorang untuk mengelola emosinya dengan baik:
  1. Melatih kesadaran emosi: Kenali kapan emosi mulai meningkat agar bisa dikendalikan sebelum berdampak buruk.
  2. Gunakan komunikasi yang sehat: Sampaikan perasaan dengan bijak tanpa melukai orang lain. Dengan nada suara yang tenang dan tidak terbawa emosi saat berbicara.
  3. Ambil jeda saat lelah: Hindari percakapan sensitif saat kondisi tubuh dan pikiran sedang tidak stabil. Dengan kecerdasan emosional yang baik, seseorang dapat menghindari konflik.

“Aku sadar sekarang, kalau nggak semua orang bisa langsung paham keadaan kita. Dulu aku pikir mereka harusnya paham sendiri, padahal nggak selalu begitu. Ini menjadi pembelajaran buat aku kalau sedang capek, lebih baik tenang dulu daripada langsung tersulut emosi yang akhirnya bikin orang lain sakit hati,” ujar Abdul Aziz.

Dari kejadian ini, kita bisa memahami betapa pentingnya kecerdasan emosional dalam menjaga hubungan pertemanan. Perasaan yang tidak dikelola dengan baik bisa membuat seseorang bereaksi di luar kendali, yang akhirnya menciptakan jarak tanpa disadari. Oleh karena itu, belajar mengenali dan mengontrol emosi, sebab berkomunikasi dengan baik dapat membantu menghindari kesalahpahaman.

Nabila Febriyanti

Saya adalah mahasiswa Jurnalistik semester lima yang sedang membangun perjalanan menuju profesi jurnalis. Akun blog ini dibuat pada tanggal 22 Agustus 2025. Ketertarikan saya mencakup berita harian, reportase mendalam, feature, dan opini, yang saya tulis dengan riset dan ketelitian. Website ini menjadi wadah karya jurnalistik saya, berisi tulisan dari tugas kuliah, liputan mandiri, hingga eksperimen penulisan. Harapannya, setiap artikel di sini tidak hanya memberi informasi, tetapi juga menginspirasi dan membuka wawasan pembaca.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama