![]() |
| (Sumber Foto: Nabila Febriyanti) |
Oleh: Nabila Febriyanti
Jakarta, Aruskabar.com – Bagi masyarakat perkotaan, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) merupakan fasilitas vital untuk menghubungkan satu tempat ke tempat lain dengan aman dan efisien. Namun, JPO yang berada di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, justru menuai keluhan dari warga karena dinilai terlalu tinggi dan kurang ramah bagi pejalan kaki.
Para pengguna jalan harus menaiki banyak anak tangga untuk menyeberang melalui JPO tersebut. Tak sedikit yang akhirnya memilih menggunakan angkutan umum daripada harus menguras tenaga menaiki tangga yang tinggi. Kondisi ini membuat JPO Jatinegara kerap sepi dari pejalan kaki, meski keberadaannya sangat strategis.
“JPO ini terlalu tinggi, saya yang masih muda saja harus naik pelan-pelan satu-satu. Tapi tetap saya pilih naik JPO karena uang jajan saya pas-pasan, nggak cukup buat naik angkot,” ujar Hari, seorang pelajar yang diwawancarai pada Kamis (12/09).
JPO ini dikenal warga dengan sebutan “Jembatan Biru” karena pagar jembatannya dicat biru. Meski sudah dilengkapi atap sebagai pelindung dari hujan, desain yang terlalu tinggi membuat pengguna harus ekstra hati-hati dan sabar saat menaikinya, terutama bagi lansia dan anak-anak.
Selain masalah ketinggian, warga juga mengeluhkan minimnya penerangan di malam hari. Lampu-lampu di sepanjang JPO kerap mati, sehingga membuat suasana menjadi gelap dan rawan tindak kriminal.
“Jembatan Biru itu rawan begal kalau malam, Kak. Sudah banyak yang jadi korban. Kalau sudah malam, mending naik angkot aja daripada nyawa jadi taruhan,” ungkap Baim, seorang pedagang warung di sekitar lokasi (12/09/25).
Keluhan warga ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi dan perbaikan. JPO seharusnya menjadi solusi aman bagi pejalan kaki, bukan menjadi tantangan yang menghambat mobilitas masyarakat.
Tags
Reportase

rawan begal
BalasHapus